Berbeda Sejak Kecil

Perbedaan? Sudah lama aku mengenalnya. Sejak kecil, aku sering melihat hal hal yang berbeda dari keluargaku. Mayoritas dari keluarga ayahku beribadah di Gereja sedangkan keluarga ibu ku beribadah di Masjid, tidak sedikit juga yang beribadah di Pura, Vihara dan Klenteng. Itulah perbedaan yang pertama kali ku kenal, hal lain yang tak kalah unik ialah akulturasi yang terjadi di keluargaku. Aku sering melihat akulturasi saat perayaan hari keagamaan, contohnya saat Imlek dan Idul Fitri. Imlek selalu identik dengan makanan khas orang Chinese dan angpao, namun disini yang kami santap bukanlah makanan khas Imlek melainkan rendang dan ketupat yang selalu jadi menu utama. Begitu halnya di hari raya Idul Fitri, seharusnya identik dengan ketupat, tapi entah kenapa selalu ada bakpao, dodol, dan makanan khas imlek di meja makan. Akulturasi juga terjadi pada apa yang kami pakai. Tak jarang saudara-saudara ku "salah kostum", saat hari Natal misalnya. Saudara-saudara ku malah keren dengan baju kokonya, sementara aku memakai pakaian yang seharusnya.

Lain halnya di kampung halaman Ibuku, di ujung pulau jawa, tepatnya Banyuwangi. Banyuwangi, disanalah pertama kalinya aku mengenal peci dan sarung. Hal yang paling menyenangkan disana ialah membangunkan orang yang ingin sahur. Anak-anak disana meminjamkan peci dan sarungnya kepada ku, dan mereka juga yang mengajari ku memakai sarung. Lalu mereka meledekku dengan sebutan "Cina Jawa" / "Cina Kampung". Setelah siap dengan pentungan, peci, dan sarung, kami berangkat keliling kampung sambil berteriak "Sahur Sahur". Malam menjadi hal yang menyebalkan disana, karena semua teman-teman ku pergi tarawih, sementara aku hanya duduk terdiam menonton televisi. Aku juga sering ikut pawai obor disana, berkeliling ke kampung-kampung, berbincang-bincang sepanjang perjalanan, tak jarang mereka mentertawakan ku karena aku tidak mengerti bahasa jawa. Sampailah pada titik awal kami berkumpul, tak terhitung sudah berapa kampung yang kami lewati, dan sudah berapa kali mereka mentertawakan ku. Hari yang ditunggu tunggu pun tiba, semua orang bangun pagi dan memakai baju lebaran yang baru dibeli kemarin. Sama seperti mereka, aku juga memakai baju lebaran yang dibelikan nenek. Berkunjung ke tiap-tiap rumah, bersalam-salaman, mendapat sangu, dan makan semua cemilan yang ada di meja tuan rumah. Akhirnya perpisahan tiba, aku harus kembali ke kota hujan dan berpamitan ke kakek, nenek serta saudara-saudara ku.

Sampai duduk di bangku sekolah menengah atas, aku masih sama. Masih menghargai semua perbedaan yang ku kenal, masih ikut membantu orang yang berbeda dengan ku, masih suka mengenakan peci serta baju koko. Walaupun sering ada yang menanyakan kenapa aku berbuat itu semua, aku hanya bisa tersenyum. Perbedaan itu hal yang indah jika kamu tahu cara menghargainya. Berbeda tidak masalah asal selalu berusaha berbuat baik tiap harinya. Itulah yang ku kenal sejak kecil dan sampai sekarang aku akan terus mengenalnya, perbedaan.

Hargai Perbedaan Yang Ada & Semangat Berbuat Kebaikan!.

Komentar

  1. Mantap a andrian๐Ÿ˜… sekarang kan perbedaan.. apa postingan besok persamaan?๐Ÿ˜ditunggu ya a postingan selanjutnya...mantap abis๐Ÿ‘Š

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum tau han, ditunggu aja ya๐Ÿ˜…. Makasih han!

      Hapus
  2. Memang A Andrian ini cocok jadi contoh teladan wkwk.. semoga dengan tulisan yang di buat Aa ini, bisa membuat banyak orang sadar betapa indahnya menghargai perbedaan ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
  3. Sukaaaaaaa wkwkwkwk. Memang sih ya, tulisan yang enak dibaca itu ya tulisan yang jujur. Jadi gaya bacanya juga santai, haha. Mantap!

    BalasHapus
  4. Bagus a ceritanya sukkaaakk ...๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    BalasHapus
  5. Keren kak��. Permulaan yg bagus kak. ���� Ternyata dikelilingi dan menghargai/dihargai perbedaan merupakan salah satu hal yg menyenangkan. Semoga kedepannya semakin baik lagi(aamiin). Keep spirit!

    BalasHapus
  6. Keren banget a'. Kata²nya mudah di cerna, good luck untuk ke depannya a'...๐Ÿ˜‰

    BalasHapus
  7. Keren banget a'. Kata²nya mudah di cerna, good luck untuk ke depannya a'...๐Ÿ˜‰

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. saya suka tulisan ini. Saya mengagumi keharmonisan di dalamnya, ah damai rasanya jikalau multikulturalisme Indonesia benar terealisasi seperti yang digambarkan di keluarga Andrian. Tetap menulis, karena menulis membuat kau akan di kenang. ;))

    BalasHapus
  12. Waw! Menarik.
    Andrian, aku menikmati setiap kata yang kau tulis dengan tulus. Pun turut damai dibuatnya.
    Masyarakat Indonesia harus baca tulisanmu agar tau dan malu karena melulu merasa syahdu saat menyulut keberagaman di negara yang kebelet maju.
    Andrian, Chairil Anwar bilang Ia ingin hidup seribu tahun lagi. Dan Ia benar. Hingga kini Ia masih terus hidup. Melalui tulisan-tulisannya.
    Kalau kamu mau hidup seribu tahun juga. Mudah. Jangan berhenti menulis. Dan hiduplah seribu tahun lagi, Andrian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasihhh Ambu. Keren banget komentarnya. Siap Ambu๐Ÿ˜‚

      Hapus

Posting Komentar