Pagi itu Kembali
Ternyata aku yang terlalu jauh melangkah. Sebelum pagi itu, hanya ada gedung-gedung tinggi yang menjulang. Asap kendaraan yang lalu lalang. Semua orang berlari, mereka takut dilahap waktu. Saling berhimpitan, kadang ada yang terjatuh, kadang juga ada yang berhenti tiba-tiba. Pagi yang tidak mengenal kasih sayang. Pagi tidak lagi sejuk, pagi hanya menjadi pengingat akan repetisi yang harus kamu lakukan. Pagi yang berbenturan dengan waktu. Pagi yang kosong. Pagi yang tak lagi, ada kamu. Namun setelah sekian purnama, pagi itu kembali. Di restoran cepat saji yang menyuguhkan es krim yang disukai anak-anak, kamu datang. Kamu masih sama seperti pertama kali aku mengenalmu. Kesederhanaan sepertinya selalu mengiringi kemana pun kamu pergi. Tentunya, senyummu masih sama. Tuhan memang perancang yang handal. Tak habis pikir aku denganNya, bagaimana senyum semanis itu bisa dikaruniakannya kepadamu. Aku percaya, senyum itu merupakan salah satu karya seni terbaikNya. Aku bawakan kamu s...