Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Melihat Isi Cangkirmu

Di hari, renjana kita terlalu kuat untuk membuat rencana yang berulang kali gagal menjadi kenyataan. Kita akhirnya bertemu. Kala itu, kita saling duduk berhadapan. Kamu adalah warna ceria, sedang aku adalah biru yang sudah pudar menuju abu-abu. Wajahmu adalah lukisan yang sama seperti yang ku tatap di tahun-tahun sebelumnya. Begitu juga dengan garis senyum dan tatapan matamu. Aku sejujurnya sungguh bangga padamu. Kamu telah membuktikan padaku kalau kamu bukan lagi anak kecil. Kamu telah tumbuh dan tidak lagi takut jatuh. Lalu kita sama-sama mengeluarkan cangkir masing-masing. Cangkirmu memiliki banyak retakan. Ada juga lukisan kaktus dan mercusuar di pantai. Aku memandangi cangkirmu dengan seksama. Ternyata retakan-retakannya justru membuat cangkirmu terlihat lebih apa adanya. Barangkali memang tidak semua keindahan dalam hidup membawa keuntungan. Burung merak dengan bulunya yang menawan pun harus merasa tertawan karena menahan berat beban yang membuatnya berlari dengan lamban. B...

Pesan Untuk Tuhan

Tuhan, kali ini saya datang pada diri-Mu melalui sebuah tulisan. Saya yakin kalau Kau pasti sudah mengetahui apa yang saya akan tulis. Namun, itu bukan jadi masalah yang besar. Karena saya percaya kalau Kau menginginkan setiap umat-Mu untuk datang dan bercerita meski Kau sudah tahu apa yang mereka rasakan. Pertama-tama, saya akan mengaku bahwa saya adalah pendosa sampai sekarang. Saya seringkali mengulangi kesalahan dan jatuh di dalam dosa yang sama. Dan yang memalukan dari menjadi seorang pendosa adalah saya juga seorang penakut yang lemah. Saya tak pernah henti-hentinya meminta Diri-Mu untuk menyertai saya. Di sisi yang lain, saya juga kesulitan untuk berhenti melakukan dosa-dosa. Saya menyadari dengan penuh bahwa saya memiliki banyak hal-hal tidak baik di dunia. Namun, Engkau adalah Tuhan yang Maha. Maha segala hal-hal baik. Engkau adalah Tuhan yang tak pernah menghapus nama saya dari kitab kehidupan-Mu meski dosa saya sungguh pekat dan kesalahan-kesalahan saya sungguh hina. ...

Aku Benci Melihat Kamu Berbeda

Malam ini, kota hujan sedang lenggang. Sepertinya pandemi memang membuat semua kota menjadi sepi sekarang. Hampir semua pekerja kantoran dirumahkan. Orang-orang pun berpikir ulang untuk ke luar rumah dan berkeliaran. Lenggangnya kota hujan menjadi sebuah momen yang jarang sekali aku dapatkan. Aku pecahkan kesunyiannya dengan kuda besiku yang berkekuatan hanya 70 cc. Seketika kami berdua menjadi pusat perhatian di jalanan. Jika bukan karena sebuah pesan yang masuk ke gawaiku minggu lalu, aku pasti tidak akan pernah mau untuk ke luar rumah. Namun, pesan masuk ini bukan pesan biasa. Bukan pula ajakan nongkrong-nongkrong tidak jelas. Pesan ini datang dari seseorang yang pernah mengisi hari-hari dan hatiku selama hampir satu tahun. "Aku ingin bertemu. Ada yang ingin aku bicarakan", katamu dalam pesan itu. Aku tidak langsung menjawabnya. Karena aku masih menebak-nebak apa yang akan kamu bicarakan dan bagiku semuanya sudah jelas ketika kamu memutuskan seluruh perjalanan kita sel...