Kau Melukis Aku



Hampir setiap hari hujan di bulan ini, karena memang sudah seharusnya. Beberapa orang mensyukuri hujan apa adanya, beberapa lagi mengutuk langit karena menjatuhkan air disaat yang mereka anggap tidak tepat. Namun Pluviophile (Pecinta Hujan) punya pandangan yang berbeda, mereka mensyukuri hujan lebih dari orang pada umumnya, karena hujan menjadi pembawa damai dan ketenangan bagi pikiran mereka.
Namun diriku bukanlah Pluviophile si pecinta hujan apalagi Clinomania yang menyukai diam diatas kasur berlama lama.
Aku hanyalah remaja yang baru lulus dari bangku SMA 3 tahun lalu, yang mencintai kopi karena ia mengajarkan bahwa yang hitam tak selalu kotor dan yang pahit tak selalu menyedihkan.
Kali ini, aku duduk di sebuah cafe sekaligus co-working space dengan segelas espresso hangat di hadapanku, menunggu seorang klien yang minta dibuatkan konsep dekorasi untuk acara sekolahnya di penghujung tahun. 1 jam telah kuhabiskan untuk menunggu di cafe ini ditemani espresso hangat yang ku seruput sedikit demi sedikit, alunan musik indie lokal yang disetel oleh pegawai cafe, dan perbincangan seorang bapak tua dengan barista yang berdiskusi kapan waktu yang tepat untuk menyeruput segelas kopi. Sementara diluar cafe,para pelajar yang seharusnya gembira karena bel pulang telah berbunyi, harus menunggu hujan berhenti. Ada yang menunggu di teras sekolah, ada yang menunggu di halte bis, dan mungkin beberapa lagi masih setia berada di dalam kelas. Dari kejauhan aku melihat lelaki berseragam putih abu berlari menembus hujan. Tujuannya ialah cafe tempat ku menunggu, ia pun masuk cafe lalu bergegas mengambil beberapa lembar pamflet dari dalam tasnya. Dibagikannya lah pamflet ke semua pelanggan yang ada di cafe.
“Bro, gue nitip nih pamflet ya. Tolong lu tempel di cafe lu..” ucapnya kepada salah satu barista.
“Okay bro, nanti gue tempel kok…” balas si barista.
“Festival Seni Akhir Tahun, Warnai Mimpimu Disini” itulah sebagian tulisan dalam pamflet yang ku pegang ini. Lelaki berseragam itu pun keluar, lalu masuklah seorang perempuan berseragam yang langsung memesan milkshake. Sambil membawa milkshake pesanannya, ia berjalan menuju tempat yang kududuki.
“Kak… aku duduk disini ya. Boleh kan?” tanya perempuan itu sambil menarik bangku
“Boleh kok… duduk aja” jawabku
“Alyssa… nama kakak siapa?” Tak kusangka perempuan ini langsung mengenalkan nama dan menjulurkan tangannya.
“Chandra.. panggil aja andra” jawabku sambil menjabat tangannya.
“ Ohhh.. ini kak chan? Maaf kak udah bikin nunggu lama. Aku yang kemarin malem ngehubungin kaka buat ketemuan disini”.
“Hah?!!.. jadi kamu klien yang saya tunggu dari 1 jam lalu?” Tanyaku kaget karena tak kusangka klien ku masih duduk di bangku SMA.
“Iya kak… maaf banget ya kak. Aku dapet kontak kaka dari ketua pelaksana festival seni tahun lalu” ucapnya dengan nada memelas.
“Iya gapapa.. kakak maafin kok. Emangnya kamu mau buat acara kayak gimana?”
“Aku mau buat acara yang lebih hebat dari acara kak Grace. Ini mimpi ku kak dari dulu, aku mau nanti yg dateng festival seni bisa ngerasain banget feel acara ku” Jawabnya dengan menggebu-gebu.
“Kak Grace?!!... Kamu kenal juga sama kak grace?”.
“Pastilah kak… Dia ketupel tahun lalu. Dia bikin sejarah di sekolah alyssa, festival seni pertama itu hasil jerih payah dia”
Aku terdiam sejenak, ada banyak kenangan lama yang sudah ku kubur dalam-dalam, namun ketika mendengar namanya. Kenangan itu kembali. Menyembur keatas bak air mancur yang kerannya sudah lama tak dibuka. Perasaan senang sampai sedih berterbangan di hatiku seperti kupu-kupu yang menemukan bunga idamannya.
“Grace… Kakak juga kenal dia di tempat ini, satu tahun lalu” ucapku pelan.
Satu tahun yang lalu, aku tak jauh beda. Masih seorang remaja yang menerima job design demi mencukupi kehidupannya. Sesekali menjadi penulis atau kolumnis di beberapa forum digital dan website humaniora. Dan tentu, masih menyukai kopi karena hitam dan pahitnya. Lagi-lagi kebiasaan ku terulang, kebiasaan datang satu jam sebelum waktu pertemuan dengan klien di meeting-point. Secangkir espresso sudah hampir habis ku seruput daritadi, namun klien yang ku tunggu tak datang juga. Sudah lelah mata ini bolak balik satu socmed ke socmed lain demi melepas kejenuhan menunggu. Akhirnya ku putuskan untuk bermain game yang sedang trend kala ini. Tak terasa 30 menit ku habiskan dengan asyik bermain game ini. Tak lama, masuk seorang perempuan berseragam SMA ke dalam cafe. Badannya tak terlalu tinggi namun bisa dibilang ideal bagi remaja seusia dengannya. Rambutnya hitam sebahu. Dia cantik namun kali ini kecantikannya tertutup oleh wajahnya yang murung. Sejenak ia berdiri di depan pintu cafe, melihat bangku mana yang akan dia duduki. Dia pun memutuskan untuk duduk di meja yang sama denganku. Diam tanpa kata. Sunyi bagaikan angin malam yang menerpa di pinggir pantai.
Ku beranikan diri untuk bertanya, “De.. kenapa kamu diam aja daritadi?”
“Aku lagi kesel...” jawabnya singkat
Mengetahui responnya yang singkat, ku urungkan niat untuk bertanya kembali. Aku takut dia semakin kesal jika di hujani banyak pertanyaan. Dia berdiri lalu pergi ke meja barista untuk memesan ice cappucino.
“Sering minum cappucino?” tanyaku
“Ga terlalu sering, tapi aku suka sama rasanya”
“Tau apa yang spesial dari segelas cappucino?”
“Gatau.. menurut ku semua kopi sama aja, ga ada yang spesial dari mereka” jawabnya sambil mengaduk
“Cappucino itu jenis hidangan kopi paling populer di dunia. Karena saking populernya, cappucino jadi kopi yang paling sulit dihidangkan..” jelasku
“Lalu apalagi yang spesial dari kopi ini?”
“Di Italia, cappucino cuma diminum pagi hari, sebelum jam sebelas. Selain di Italia, kita bebas menyeruput kopi ini kapan saja”
“Cuma itu aja?”
“Satu lagi… orang yang suka cappucino biasanya hatinya hangat tapi pelupa di beberapa waktu. Dan kamu harus punya teman kalau mau menyeruput cappucino..”
“Hah? Buat apa?” tanyanya heran
“Karena kamu pelupa. Aku harus ingetin kamu buat menyeka foam cappucino dari bibir kamu. Tapi kali ini, izinkan aku yang menyeka foam itu dari bibir manis mu?” ucapku gombal
“Cih.. gombal. Aku ga sepelupa yang kaka bilang. Dan aku ga izinin, tapi gatau kalo lain waktu” jawabnya sambil tersenyum kecil.
Itulah pertama kali ku bertemu dengannya. Diawali dengan percakapan singkat yang ku bumbui dengan sedikit gombal. Dibalas dengan senyum manisnya. Grace, namanya. Grace hampir mirip dengan Alyssa. Mempunyai mimpi yang sama. Bersekolah di tempat yang sama. Dan keduanya sama-sama cantik. Bedanya, Grace cantik dengan senyum manisnya. Alyssa dengan teduh matanya yang kadang tertutup oleh kacamata.
“Ih lucu kak ceritanya, kenal kak Grace gara-gara segelas kopi” ucap Alyssa dengan gemas.
Benar kata Alyssa, lucu memang jika mengingat kembali pertemuan saat itu. Tak disangka, segelas kopi kecil menjadi perantara pertemuan kita. Kecil memang namun dari hal-hal yang kecil, perasaan yang besar bisa tumbuh.
“Kakak mau tanya lis.. kenapa kak Grace ngasih nomor kakak ke kamu?”
“oh iya kak.. waktu itu, aku hubungi kak Grace buat nanya-nanya tentang festival seni, dan kata kak Grace.. kakak itu tim kreatif kemarin” Jawab Alyssa
“Hah?!!.. bener dia ngomong gitu?” Tanyaku kaget.
Tim kreatif ya… . Jadi seperti itu ia menggangap kehadiranku. Namun aku lebih suka dianggap sukarelawan. Karena saat itu, sudah bukan seharusnya aku menjadi panitia dalam acara sekolah. Apalagi acara yang bukan dari sekolah asal ku.
“Jadi kamu kesel gara-gara apa? Dapet nilai ulangan jelek? Hahaha” tanyaku sambil tertawa.
“Ihh bukan gara-gara itu kak… Kegiatan ekstrakulikuler ku gak diizinin sama sekolah. Padahal itu mimpi ku dari dulu”
“Kenapa gak diizinin? Masalah biaya?”
“Iyaaa kak, kata pihak sekolah gitu…” Ucap Grace sambil mengeluarkan proposal perizinan
“Sini biar kaka lihat proposalnya” aku langsung menuju bagian dana setelah tahu bahwa masalahnya terdapat pada biaya.
“Ini gak salah Grace? Untuk dekorasi ini terlalu mahal tau” Kataku sambil menunjuk biayanya
“Iyaa kak itu yang makan banyak biaya, Disekolah ku ga ada yang bisa design.. Jadinya aku minta jasa orang buat bikin ini proposal”
Sejenak aku terpikir untuk membantu Grace menggapai mimpinya. Aku ingin menjadi bagian dari mimpinya walau kontribusi ku hanya sedikit. Aku ingin melihat senyum manis di wajahnya kala mimpi dan harapannya terwujud.
“Let me… Let me be your volunteer to your dream. Urusan design biar kaka yang urus” kataku dengan semangat.
“Hah?!! Bener kak? Ga ngerepotin kakak sama sekali? Terus aku harus gimana? Aku harus bayar berapa” Balas Grace kaget.
“Kamu ga ngerti kata volunteer ya? Gratis, semuanya gratis. Jangan khawatir Grace, kaka punya banyak waktu luang kok” Jawabku meyakinkan.
“Makasih banyak kak bantuannya. Aku janji kak, aku akan mewujudkan mimpi ku sendiri. Because this is my dream and i have to strive to make this comes true”. Grace tersenyum lebar. Senyuman paling manis yang pertama kulihat dari bibirnya. Senyuman yang akan menjadi bahan bakar ku. Senyuman yang akan ku ingat ketika lelah datang menghampiri. Dan takkan terlupakan dari ingatan kecilku.
Hari ini mungkin menjadi hari yang menyebalkan jika aku tidak bertemu Grace. Aku pasti akan kesal melihat klien ku tak kunjung tiba setelah ditunggu berjam-jam lamanya. Namun Grace datang bagaikan senja yang indah setelah siang yang panas. Menyejukkan dan menenangkan dari segala penat yang ada. Bagaikan hujan bagi seorang pluviophile. Atau kasur yang nyaman bagi si clinomania.
Tiba-tiba handphone-ku berbunyi, ada notifikasi yang muncul. Pesan yang sudah kuduga datangnya dari siapa. Diana pastinya.
“Bagaimana harimu?” Tanya dirinya
“Dari pagi sampai siang baik-baik aja. Namun ketika menjelang sore, ku kira akan berakhir buruk karena klien ku tak kunjung tiba. Tapi datang seorang perempuan bernama Grace, dia cantik na” balasku
“Grace? Dia siapa chan? Kau mudah sekali jatuh hati dengan orang baru. Berkali-kali telah kuingatkan dirimu. Jangan semudah itu dalam jatuh hati. Wanita cantik selalu menjadi kelemahanmu ya chan….”
“Bukan begitu Diana. Dia berbeda dari perempuan yang kukenal sebelumnya. Ada yang berbeda dari senyumnya”
“Terserahlah apa kata mu chan. Berkali-kali nasihat telah ku berikan. Tapi masih saja kau tak mendengarkannya. Aku lelah menasihati dirimu lagi”
“Maaf Diana. Bukan begitu maksudku. Kau kenal diriku dengan baik kan?... Aku butuh waktu untuk menjelaskan pada dirimu seperti apa Grace sebenarnya. Atau mungkin kau harus bertemu dengannya nanti. Saat kau terbebas dari tugas kuliah mu yang berat itu hahaha”
“Chan.. Chann.. sudah sudah, tinggal sebentar lagi waktuku. Masih banyak tugas yang harus kukerjakan. Apalagi yang ingin kau katakan?”
“Grace. Dia punya mimpi besar na. Aku ambil bagian kecil dalam mimpinya. Aku ingin membantunya walau sederhana na. Bolehkah?” tanyaku pada Diana yang mulai kesal karena nasihat-nasihatnya sering ku lupakan.
“Membantunya? Itu sudah jadi kebiasaan baik mu bukan chan?. Tak apa, asal kau tidak terbebani. Tapi ingat kebiasan baik mu bisa menjadi kelemahan terbesar mu chan”
“Terimakasih Diana, tempatku bercerita.”
“Cih gombal”
“Bagaimana hari mu Diana?”
“Sama seperti hari-hari sebelumnya chan. Tugas kuliah tak kunjung selesai. Aku penat, butuh rehat. Ajak aku berkeliling kota hujan ya chan, ketika aku senggang”
“Siap prince Diana hahahahah”. Pesan ku hanya dibaca olehnya. Dia harus mengerjakan tugas-tugas kuliahnya karena sebentar lagi ia akan lulus. Selalu sibuk tiap harinya. Tak seperti diriku. Memang kita sudah berbeda sejak di bangku SMA. Dia sering ikut olimpiade sementara aku sering bercanda ketika guru menjelaskan. Sudah menjadi mimpinya sejak SMA melanjutkan pendidikan di salah satu universitas ternama di Indonesia dengan jurusan teknik kimia. Dia berhasil menggapai mimpinya. Sementara aku masih mengumpulkan biaya untuk melanjutkan pendidikan. Diana juga menjadi satu-satunya tempat ku bercerita banyak hal dari bangku SMA hingga lulus. Dan sekarang dia masih tempat bercerita ku, masih sering menasihati ku dan masih sering ku lupakan nasihatnya.
Persiapan festival seni sudah hampir matang. Kami hanya punya kurang lebih satu minggu untuk membereskan semuanya. Aku dan Grace semakin dekat. Kadang aku merasa Grace memperhatikanku secara diam-diam. Grace punya cara yang sederhana dalam menyalurkan perhatiannya. Sesekali Grace membawakanku bekal ketika kami bertemu di cafe. Grace selalu ragu nasi goreng buatannya terlalu asin atau tidak. Namun bagi ku nasi goreng buatan Grace sangatlah enak. Aku sangat suka sosis yang ia bakar setengah matang. Dan di beberapa waktu, Grace membuat diriku menggaguminya. Aku teringat ketika kami rapat dirumahnya. Ketika panitia yang lain pulang namun Grace menyuruhku untuk tetap tinggal. Grace mengajakku ke ruangan kesukaannya, ruangan yang penuh dengan segala hal berbau seni dan sastra. Ada perpustakaan kecil di dalamnya,banyak jenis buku yang kulihat. Mulai dari ensiklopedia sampai novel cinta. Aku tertarik dengan beberapa buku, seperti Architecture In Love, Psikologi Warna, dan Resep Mudah Membuat Kue. Kuputuskan untuk mengambil buku Psikologi Warna dan membaca di sofa kecil yang disediakan. Di sudut ruangan, terdapat piano. Dan di sudut ruangan lain, ada bangku kecil yang berhadapan dengan kanvas polos. Grace duduk disana, mengambil kuas dan mencelupkannya ke palet warna. Ia mulai melukis diatas kanvas itu. Karena penasaran, aku menghampiri Grace. Ada yang aneh dengan palet warnanya.
“Grace kenapa warna di palet cuma ada biru ? Kamu kehabisan cat air?” tanyaku penasaran
“Bukan begitu kak.. aku cuma suka warna biru, karena warnanya yang lembut. Walaupun warna biru kadang dianggap sebagai warna yang sedih, namun ketika aku melihat birunya langit dan birunya air laut. Pikiranku langsung tenang, semua beban ku serasa terbawa oleh desiran angin dan oleh ombak.”
Aku terdiam. Sejenak mata kami saling bertatapan. Bagaikan birunya langit, matanya membawa ketenangan dan kedamaian bagi diriku. Aku sadar, hidup bagaikan sebuah kanvas. Terserah dirimu ingin melukis apa dengan warna apa. Dan orang yang datang ke hidupmu ikut serta dalam menggoreskan warna di kanvas itu. Namun Grace bukan hanya menggores di kanvas kehidupan ku. Lebih dari itu. Dia melukisnya. Dia memberi banyak warna di kanvas milikku. Walaupun aku belum tahu bagaimana akhir dari lukisannya.
Lama kelamaan, aku mulai tahu banyak tentang Grace. Tentang ayahnya yang bekerja di luar negeri sebagai arsitek. Dan kakaknya yang sedang berkuliah di kampus ternama di kota hujan. Alasan mengapa nasi goreng Grace selalu enak karena ibunya. Ibunya seorang koki di restoran bintang lima di pusat ibukota. Dan hari yang kami tunggu-tunggu tiba. Festival seni impian Grace dan kawan-kawannya dimulai.
“Gimana kak akhir acaranya? Seru gak? Aku denger ada band indie yang terkenal itu lho” tanya Alyssa penasaran
“Iyaa lis, ada band indie. Band nya Mas Is”
“Coba kak ceritain ke aku suasananya, feelnya, apa aja deh. Aku mau denger soalnya” bujuk Alyssa
Akhir acaranya ya? Ah tak seperti film romantis pada umumnya yang selalu berakhir bahagia. Tapi karena Alyssa memaksa, aku akan ceritakan akhirnya.
Registrasi peserta mulai dari jam 7 pagi. Namun para panitia sudah bersiap dan melakukan briefing sejak jam 5 pagi. Aku juga ikut serta dalam tim. Dengan senjata andalan ku, kamera SLR yang sering kupakai sejak lulus SMA. Aku menjadi orang yang mendokumentasikan bagaimana mimpi Grace berjalan. Sejak pagi, aku sudah yakin akhir acaranya akan baik. Peserta yang datang pun banyak dari berbagai macam sekolah. Mereka bersaing secara sportif di lomba puisi,melukis,mural dsb. Sesekali aku melihat Grace tersenyum bahagia karena mimpinya dapat terwujud. Bahagianya menjadi bahagia ku juga. Karena aku telah menjadi bagian dari mimpinya. Panitia yang lain pun tak kalah semangat. Istirahat makan pun tiba, tim kembali berkumpul di ruang panitia. Kami harus bersiap untuk acara akhir.
“Mas Is sebentar lagi datang… ayo semangat terus, jangan kasih kendor!” Seru Grace dengan semangat.
Semua tim bergerak mengikuti komando dari Grace. Kukira mereka akan lelah, namun ucapan Grace mengubah segalanya. Festival seni hampir sampai di penghujung acara. Semua peserta sudah berkumpul di lapangan utama. Hari semakin sore. Langit berwarna orange, tanda senja hadir diatas kami. Semua lampu hias dinyalakan. Tak sia-sia kami mendekor dengan susah payah, dekorasi kami sangat mendukung suasana sore ini. Aku tak sabar menunggu akhirnya.
Yang ditunggu-tunggu pun tiba, Mas Is naik ke panggung dengan Payung Teduhnya. Semua orang berteriak girang. Suasana semakin meriah. Kulihat Grace ada di belakang para peserta, lalu segera ku hampiri dirinya.
“Bener kan Grace kata kakak? Payung teduh selalu punya ruang di hati para remaja” kataku dengan bangga
“Iyaa kak bener. Musik mereka sederhana, hanya berbekal gitar akustik, bass betot dan gitar ukulele. Kekuatan mereka ada di lliriknya. Lirik puitis yang menyentuh hati para pendengarnya.”
Mas Is mulai mengambil senjatanya. Ia mulai memainkan satu lagu. Lagu pertama yang ia bawakan, Berdua Saja.
Ada yang tak sempat tergambarkan
Oleh kata ketika kita berdua
Hanya aku yang bisa bertanya
Mungkinkah kau tahu jawabnya
Suasana menjadi sangat mellow. Benar kata Grace, liriknya sangat puitis. Sesuai dengan suasana sore ini, banyak yang berpasangan. Namun mereka irit bicara. Hanya tersenyum sepanjang sore. Sesekali pandang dengan malu-malu. Layaknya aku dan Grace.
Malam jadi saksinya
Kita berdua di antara kata
Yang tak terucap
Berharap waktu membawa keberanian
Untuk datang membawa jawaban.
Didepanku ada Ranu dan Salsa. Mereka bagian dari panitia. Momen seperti ini sangat jarang kualami, melihat dua insan tak banyak cakap namun tangan terus berkait seperti truk gandeng. Wajah mereka memerah, perpaduan rasa malu-kucing dan senang yang meluap-luap. Tak terpikir oleh mereka, masa SMA yang sebentar lagi selesai. Bagi dua orang itu, waktu membeku dan biarlah terus begitu. Sore itu Ranu dan Salsa mengikat janji. Diantar lagu "Untuk Perempuan yang sedang dalam Pelukan."
Tak terasa gelap pun jatuh
Di ujung malam, menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya
Petang itu, Ranu dan Salsa adalah dua orang yang paling berbahagia di dunia.
Mas Is turun dari panggung. Grace mengajakku keluar dari lapangan, ada hal yang harus dibicarakan katanya.
Setelah menjauh dari lapangan, aku putuskan untuk memulai pembicaraan.
“Ada apa Grace?”
“Gapapa kak, kita duduk aja disana. Gaenak kalo ngomongnya berdiri” ucapnya sambil menarik tanganku.
Setelah kami duduk, Grace hanya terdiam. Tatapannya kosong. Aku tak mengerti harus apa. Mungkin dia butuh waktu pikirku.
Tak lama, matanya memerah. Ia mengeluarkan air mata.
“Loh kok nangis si Grace? Kamu terharu ya?” tanyaku kaget
“Iyaa kak. Makasih banyak udah bantu aku. Makasih kak udah selalu ada. Makasih kak, berkat kaka mimpi aku bisa terwujud” jawab grace sambil mengeluarkan air mata.
Grace terdiam lagi, sepertinya ada sesuatu yang ingin ia katakan.
“Kalo mau ngomong lagi, ngomong aja Grace. Gapapa kok”
“Maaf kak. Waktu kita tinggal sebentar lagi”
“Hah? Kenapa Grace? Ada apa?”
“Aku harus pergi ke luar negeri kak setelah ini. Aku ingin menggapai mimpiku yang lain”
“....”
“Aku akan menetap disana sampai aku lulus. Aku ingin melanjutkan pendidikan disana kak”
“Kemana Grace?”
“Ke Napoli kak, Italia”
Perasaan senang dan sedih bercampur menjadi satu ketika mendengar ucapan Grace. Aku senang melihat Grace berusaha menggapai mimpi-mimpinya yang lain. Di sisi yang lain, sedih rasanya jika tidak bisa melihat Grace dalam waktu yang lama. Aku tidak bisa lagi merasakan nasi goreng buatannya. Atau sekedar menikmati waktu sore bersama di cafe kesukaan kami. “Aku ingin terus bersama mu Grace…” kataku egois
“Maaf kak… Aku gabisa, Aku harus pergi”
Grace pergi meninggalkan ku dengan tangis di matanya. Aku tak tahu harus apa. Tak mungkin aku mengejarnya. Aku sadar, aku hanyalah bagian kecil dari mimpinya. Aku ingin selalu menjadi bagian dari mimpi-mimpinya. 30 menit kuhabiskan termenung di bangku taman ini. Aku bangkit. Aku harus kembali ke ruang panitia. Ruangan itu dipenuhi tangis bahagia. Lelah mereka tak sia-sia. Berpuluh-puluh rapat mereka ikuti, akhirnya membuahkan hasil. Festival seni bukan lagi masalah program kerja bagi mereka. Ini mimpi mereka sejak dulu. Dan mereka berhasil menggapainya.
Aku melihat Grace ditengah lingkaran itu. Lagi-lagi aku tak tahu harus apa. Aku hanya seorang sukarelawan disini. Aku tak tahu caranya menenangkan perempuan yang sedang menangis. Kuputuskan untuk menggendong ransel ku, merapihkan semua peralatan yang kukeluarkan. Aku pergi. Tugasku hanya sampai disini. Terlihat lancang memang, pergi tanpa pamit dahulu. Tapi aku tak kuat jika harus pamit ke mereka, apalagi ke Grace. Aku takut Grace melihatku sedih. Aku takut dia sadar bahwa aku menyimpan rasa padanya. Aku takut dia tahu aku ingin terus bersamanya. Sampai di gerbang sekolah. Handphone ku berbunyi. Muncul pop-up notifikasi dari Diana.
“Aku sedang di cafe kesukaan mu. Mampirlah sebentar sebelum kau pulang” katanya
Aku menuju cafenya. Di lantai 1 tak terlihat keberadaan Diana dimana. Aku harus naik ke lantai 2. Aku berbelok sebentar ke barista, aku memesan 1 ice cappucino. Setelah naik ke lantai 2. Aku pindai kerumunan pelanggan disini. Diana ada disana. Di meja dekat sisi jendela. Dari kejauhan dia sudah melambaikan tangannya. Memberi isyarat lokasinya berada.
“Bagaimana acaranya? Sukses kan?” tanya Diana ketika aku ingin duduk
“Overall acaranya lancar. Tapi hatiku lagi ga karuan”
“Ada apa?”
“Grace na. Dia ingin pergi meninggalkan ku setelah ini. Aku ingin menahannya tapi aku bukan siapa-siapanya”
“Nah itu kau sadar akan peranmu”
“Tapi na, aku ingin selalu jadi bagian dari mimpinya. Aku ingin membantunya walau sederhana”
“Kau ingin membantunya? Atau kau ingin memilikinya chan?”
Perkataannya menusuk hatiku. Aku terdiam dan hanya bisa menyeruput ice cappucino.
“Chan chan… kau lupa tujuan awalmu. Tujuanmu hanya ‘ingin’ menjadi bagian dari mimpinya kan? Bukan ‘selalu’ menjadi bagian dari mimpinya chan.”
“Kau bagaikan peri yang tersungkur di tanah chan. Bulu sayapnya gugur ketika rasa cinta menjelma jadi rasa memiliki. Dan ketika cita-cita dan mimpi-mimpinya berubag menjadi ambisi. Ambisi mendorongmu untuk mencapai semua tanpa peduli.”
“Lalu aku harus bagaimana diana? Apa yang harus kulakukan demi menumbuhkan kembali sayapku?”
“Hanya kau yang tahu jawabannya chan. Cepat atau lambat pasti kau akan tahu.”
Festival seni selesai. Tak kusangka akhirnya akan seperti ini. Kukira akan baik-baik saja namun semua berubah akibat ucapan Grace. Semenjak malam itu, aku putuskan untuk menjauhi Grace. Aku angkat jangkar kapal ku dari pelabuhan hidupnya. Layar kapal sudah terbentang. Kutiup peluit tanda keberangkatan. Aku kembali berlayar walau belum punya arah mata angin yang jelas. Tak usah khawatir Grace akan ombak keras yang menghantam. Karena Aku akan tetap tenang.
“Maaf ya kak. Gara-gara aku, kakak harus nyeritain semua itu” ucap Alyssa bersalah
“Gapapa kok lis… santai aja”
“Tapi kak… bukankah crayon yang patah tetap memiliki warna yang sama?... Artinya kak Grace ga akan bisa ngerubah hidup kaka sepenuhnya”
“Walaupun dia telah menggoreskan banyak warna yang berarti. Tapi tetap saja, kak Chan lah yang memegang kendali penuh atas kanvas kehidupan kakak”
“Makasih ya lis…”
“Satu lagi kak, kakak gabisa terus-menerus menjadi bagian dari mimpi orang lain. Kaka harus punya mimpi sendiri. Kaka harus melukis mimpi kaka sendiri”
Benar kata Alyssa. Aku harus melukis mimpiku sendiri. Sudah cukup menjadi bagian dari mimpi orang lain. Alyssa kau telah mengajarkan bahwa bahagia bukan selalu karena hal baik. Namun ketika kau mampu melihat hal baik dari segala sesuatu, maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.
“Sekarang kakak sudah tahu jawabannya. Kakak harus memurnikan kembali hari yang telah ternoda”
“Dengan tulus kak Chan harus belajar mencintai dan mengasihi lagi”
“Kakak harus rela dan ikhlas dalam berbagi”
“Setiap hari kak Chan harus melakukannya tanpa henti agar sayap kak Chan dapat tumbuh kembali”
Hujan telah berhenti. Tak terasa kami sudah berbincang dari hujan turun hingga senja datang. Aku memutuskan mengajak Alyssa pulang karena hampir larut malam. Sebelum naik ke motor, aku memesan 2 ice cream untuk kami nikmati di jalan. Kubawa motor ku melaju dengan lamban. Sore ini kami ditemani lampu jalan yang indah dan megahnya istana orang nomor 1 di negara ini. Soreku indah dengan Alyssa. Terimakasih Alyssa, kau bagaikan satu titik cahaya diruangan yang gelap. Izinkah aku menjadikan teduh matamu sebagai tempatku berlari dari berbagai perih. Terimakasih telah menyadarkan diriku banyak hal. Takkan kulupakan kata-kata sore itu. Ketika kau asyik menyantap icecream. Lalu tiba-tiba kau berkata
“Kak tak ada gunung yang lebih tinggi dari mata kaki kita. Selama kita mau mendakinya”
Sampailah aku di perhentian terakhir, rumah Alyssa. Alyssa turun dari motor. Ia memandang mataku sejenak.
“Would.. would you be my volunteers to my dream?” pintanya
“Yes i would” jawabku.
Sekali lagi, terimakasih Alyssa. Kau melukis aku.

Komentar

  1. 💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbeda Sejak Kecil

Tentang Penulis Dan Menulis

Berlayar Kembali