Kagum




Aku bukan mereka. Yang mengagumi hanya dari indah paras mu. Aku juga bukan penikmat senyum mu. Karena kutahu dibalik lengkungan manis bibir mu, ada banyak rasa yang kau sembunyikan. Mereka hanya mengagumi indah paras mu tanpa tahu betapa sulitnya kau menjaga paras agar tetap indah. Mereka ingin terus menikmati senyum mu tanpa peduli alasan kau tersenyum karena apa. Dan aku? Mengagumi mu karena kau menghargai setiap karya kecil ku. Walau aku tak pernah tahu, kau hanya menghargai karya ku atau kau memang menghargai setiap karya lain yang bukan punya ku. Berusaha menjadi alasan dibalik lengkungan manis bibir mu walau kutahu kau punya alasan lain untuk tersenyum.

Aku bukan dia, yang selalu berusaha ada. Namun jika kau butuh tempat berbagi cerita, aku bersedia. Aku bukan dia, yang selalu berusaha memperhatikan mu dengan segala caranya. Aku hanya bisa memperhatikan mu sewajarnya, karena kutahu kau sudah dewasa. Kau pernah berkata kau risih dengan perhatian berlebih. Lantas apakah kau risih dengan hadirnya?. Atau malah sosok ku yang kian memudar karena hadirnya?

Kali ini ku tegaskan, aku hanya peduli tanpa ingin memiliki mu dengan ambisi. Karena ku sadari hidup mu sudah terlalu indah jika ada kisah cinta yang menyayat nya. Aku juga tak bisa berjanji akan selalu menjadi alasan mu tersenyum, tempat mu bercerita, dan penjaga mu. Tapi selama aku bisa, aku akan berusaha. Dan jujur, kau membuat ku kian sadar bahwa cinta tak perlu balasan, kasih tak mengenal kata pamrih, peduli tak perlu ambisi dan menjaga hanya perlu sewajarnya. Terimakasih, peri inspirasi. Yang selalu menghargai karya kecil ku. Yang tak jarang memperhatikan ku. Dan yang tak pernah risih jika aku berbagi keluh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbeda Sejak Kecil

Tentang Penulis Dan Menulis

Berlayar Kembali