Catatan Perjalanan #2 : Selaras Dalam Perbedaan


Ternyata masih ada kawan-kawan yang belum tahu saya melakukan perjalanan panjang kemana. Akan saya beritahukan kembali sekarang. Perjalanan panjang saya dimulai dari Bogor menuju Yogyakarta. Hari ini sekitar jam lima pagi, saya sampai di Yogyakarta dan menuju rumah kerabat Bregas. Sesampainya disana, kami dijamu dengan hangat. Dibuatkan kopi dan diberi kudapan. Saya akan menghabiskan waktu disini sekitar seminggu. Selepas dari Yogyakarta, saya akan berkunjung ke kampung halaman di Banyuwangi. Jadi sudah tahu perjalanan panjang saya kemana?


Hari pertama di Yogyakarta, saya hanya berkeliling ke sekitar kampung. Saya menikmati sejuknya udara pagi Yogyakarta dari atas sepeda. Memandang hamparan sawah yang terbentang luas serta jajaran bukit-bukit. Rumah kerabat Bregas berada di Nanggulan, dan hari ini akan ada acara peringatan seribu hari kepulangan neneknya. Semua kerabatnya pun sibuk menyiapkan, ada yang memasak, ada yang membersihkan rumah, dan ada juga yang membersihkan perkarangan.


Saya tak hanya tinggal diam, sebisa mungkin saya berusaha untuk membantu. Walau hanya membersihkan kursi, menggotong meja besar, dan mencabuti rumput di perkarangan. Hari ini saya belajar bahwa bukan yang kuat yang akan bertahan, namun yang mampu beradaptasi dengan keadaan lah yang dapat bertahan.

Ujian pertama dalam perjalanan ialah pembuktian kesabaran. Ujian kedua dalam perjalanan ialah sebisa apa kau menyesuaikan diri dengan keadaan. Di Yogyakarta, saya dituntut untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Mulai dari hal kecil, seperti minum air. Saya yang terbiasa minum dari dispenser dan air galon, sekarang harus bisa minum dari air yang dimasak. Kedua, saya harus bisa beradaptasi dengan kondisi kamar mandi. Disini ada dua kamar mandi, pertama untuk membersihkan diri dan kedua hanya untuk buang air besar. Yang unik dari kamar mandi kedua ialah tak mempunyai pintu.

Kamar mandi ini memiliki ukuran yang tak terlalu besar, hanya muat dua ember dan tempat untuk jongkok. Bertembok batu bata dan beratap asbes. Didepannya ada sebuah kandang kambing dan jalan setapak. Selain tidak mempunyai pintu, kamar mandi ini tidak mempunyai lampu. Terbayang bagaimana gelapnya jika kau tiba-tiba terbangun ketika malam karena sakit perut dan mau tak mau, harus mengeluarkannya di kamar mandi belakang kandang kambing yang tak memiliki lampu.


Karena nenek Bregas beragama Katolik, maka peringatan kepulangannya diselenggarakan menurut kepercayaannya. Baru saya sadari bahwa keluarga Bregas tak beda jauh dengan keluarga saya yang sangat toleransi di tengah perbedaan. Banyak dari kerabatnya yang beragama Islam, namun tak segan untuk membantu menyiapkan acara. Saat acara berlangsung pun mereka duduk diam dan mengikuti jalannya ibadah. Saya seperti melihat keluarga saya sendiri, dimana ada perayaan hari besar agama, semua kerabat saya membaur terlepas dari agama apa yang mereka anut.


Akulturasi yang terjadi di keluarga Bregas membuat saya terkejut. Bregas berkata semua masyarakat sekitar kampung akan datang, baik yang beragama Katolik dan juga Islam. Saya mengikuti jalannya ibadah namun tak terlalu mengerti, pertama karena saya beragama Protestan dan tata ibadahnya berbeda dari yang biasa saya kenal. Kedua karena ibadah disini sepenuhnya menggunakan bahasa Jawa, saya memang keturunan orang Jawa namun tidak terlalu mengerti bahasanya. Beberapa bapak-bapak datang menggunakan peci dan beberapa lagi menggunakan pakaian seperti ingin beribadah. Yang menarik perhatian ialah bapak-bapak yang menggunakan peci, ternyata ikut juga ketika bernyanyi lagu rohani dan saat berdoa. Pikiran saya dengan cepat merangkai kata untuk menggambarkan kejadian yang barusan saya lihat. Apa yang kamu kenakan tidak mencerminkan bagaimana isi hatimu. Seringkali kita menganggap mereka yang berpakaian belel adalah seorang berandal dan mereka yang berpakaian rapih adalah orang yang baik kelakukannya. Namun jika disadari, kita terlalu cepat menyimpulkan tanpa tahu isi hati mereka seperti apa.


Akulturasi budaya yang lain ialah dalam bentuk nyanyian. Saya dengar akan ada penampilan sholawat setelah ibadah. Lantas saya berpikir, bukankah sholawat ialah budaya Islam. Akhirnya saya melihat bagaimana sholawat versi agama Katolik. Ternyata tak beda jauh dengan yang sering saya dengar di Bogor, yang sering ditampilkan oleh kawan-kawan saya yang beragama Islam. Sholawat versi agama Katolik ternyata merupakan bentuk pujian yang terakulturasi dari budaya Jawa. Isi nyanyiannya pun sama untuk memuji kekuasaan Sang Pencipta. Alat yang dipakai juga tak jauh beda,seperti gendang, gong, dan peralatan musik khas Jawa lainnya.

Terakhir, perjalanan bukan hanya menguji kesabaran. Tapi juga membuat saya mampu menyesuaikan diri dengan keadaan dan terus menghargai adanya perbedaan.
Tak perlu menuntut seragam, jika untuk selaras saja kau tidak bisa. Bukankah lebih indah baju dan celana yang warnanya selaras dibanding baju dan celana yang warnanya seragam?

Saya mengucapkan terima kasih banyak untuk semua kawan-kawan yang telah membaca. Jika kawan-kawan merasa ada kata-kata yang salah, jangan sungkan untuk mengkritik. Saya selalu terbuka dengan semua kritik dan saran. Karena tanpa adanya kritik dan saran dari kawan-kawan, saya takkan menjadi diri saya yang sekarang.

Selamat malam, tetap hargai adanya perbedaan!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbeda Sejak Kecil

Tentang Penulis Dan Menulis

Berlayar Kembali