Pencarian
Setelah terombang-ambing cukup lama di tengah samudra. Aku, seorang kapten kapal memutuskan untuk kukuh pada tujuan awal. Berlayar kembali, meninggalkan hati seorang perempuan penyuka hujan karena bukan hanya aku yang berlabuh di hatinya. Dengan api semangat yang hampir padam, aku putuskan untuk singgah di pulau terdekat. Membiarkan semua awak kapalku beristirahat dan pastinya mereparasi kapal.
Sementara Kapten kapal hanya menyesap kopi di pinggir pantai, sambil memandang laut. Kapten kapal masih berharap arah angin serta ombak laut akan membawanya pada hati yang tepat untuk berlabuh. Hari semakin gelap, segelas kopi sudah sedari tadi habis. Kapten kembali ke kedai untuk membayar kopi.
Ia mencari bapak penjual kopi yang tadi sore ia lihat, tidak ketemu jika hanya mata yang mencari. Kapten memutuskan berteriak untuk memanggil bapak penjual kopi. Seseorang terlihat keluar dari arah dapur. Bukan, itu bukan bapak penjual kopi, itu perempuan yang memakai topi koki.
Secara spontan, Kapten bertanya, dimana bapak penjual kopi tadi sore?. Bapak penjual kopi? Maksud kamu ayahku? Dia pergi ke pulau sebelah untuk membeli bahan makanan, jawabnya. Terima kasih kopinya, kata Kapten seraya memberi uang. Aku traktir satu gelas kopi lagi, perempuan itu menahan sang kapten.
Baiklah, tegas Kapten.
Kapten duduk berhadapan dengan perempuan itu. Di atas meja sudah tersaji sepiring nasi goreng dan dua gelas kopi. Ini menu favorit di kedai, nasi goreng dengan sosis bakar, kata perempuan itu bangga. Terima kasih, kalau boleh tahu, siapa namamu?, tanya Kapten sembari menyantap nasi goreng dengan lahap. Yuhina... Yuhina Halmahera, jawabnya lalu menyeruput kopi. Yuhina? Seperti nama burung, Halmahera juga nama pulau kan?, Kapten berusaha memastikan. Betul, kau tahu banyak ya, jawabnya. Nama yang bagus, aku Kapten, salam kenal, kata Kapten seraya menyodorkan tangan. Terima kasih, panggil saja Ina, balasnya sambil menjabat tangan Kapten.
Untuk pertama kalinya tangan mereka saling berjabat, mata mereka saling bertatapan, hati mereka? Tak ada yang tahu pasti. Namun Kapten merasakan ada yang berbeda dalam hatinya, dalam hati ia berkata, Yuhina Halmahera apakah selama ini kau yang ku cari?. Seketika itu pula waktu terasa lambat, kapten menilik lebih dalam mata Yuhina dan nahasnya Kapten malah tenggelam dalam mata indah itu. Baru kali ini, Kapten tidak takut tenggelam. Bukan, Kapten bukannya tidak takut tapi ia memang memilih untuk tenggelam dan nyaman jatuh hingga kedalaman.
Kapten!, kata Yuhina menyadarkannya. Sontak Kapten kaget, lamunan tadi dengan cepat menghilang dan dengan rasa bersalah ia berkata, maaf. Yuhina tertunduk, mukanya memerah, apakah ia tersipu atau memang baru Kapten yang memandangnya hingga seperti itu. Akhirnya mereka saling membisu, suasana menjadi sangat hening, hanya terdengar desiran angin dan ombak.
Kapten memutuskan memecahkan keheningan dengan memulai obrolan, sudah lama menjadi koki, tanya kapten. Sudah sejak remaja hingga saat ini, kalau kapten sudah lama berlayar?, Yuhina balik bertanya. Sudah cukup lama, kenapa memutuskan menjadi koki? Kenapa tidak yang lain, bisa saja menjadi guru di sekolah bukan?. Alasannya sederhana kapten, aku suka menjadi koki... bukankah akan terasa nyaman jika melakukan hal yang kita sukai?. Kau benar Yuhina, jawab kapten singkat.
Mereka berbincang hingga satu per satu toko di pinggir pantai tutup, kedai milik Yuhina lah yang paling akhir tutup. Kapten membantu membereskan kedai bersama Yuhina lalu berjalan pulang bersama Yuhina. Di dekat dermaga, Yuhina berkata, kapten kita berpisah disini, jangan sungkan untuk mampir ke kedaiku lagi. Siap, jawab kapten seraya melambaikan tangan ke Yuhina yang pergi menjauh.
Setelah memastikan Yuhina benar-benar hilang dari pandangannya, kapten kembali melangkah menuju kapal. Kapten tak langsung masuk ke kamarnya untuk beristirahat, ia malah duduk di geladak kapal sambil menengadah ke langit. Kapal tetap diam dengan tenang, tapi pikirannya mulai terbang. Lama kapten duduk termenung dengan pikiran yang terbang kesana kemari dan sampailah ia pada satu pertanyaan. "Yuhina Halmahera, apakah kau yang selama ini kucari? Dan apakah kau yang akan menghentikan pencarianku menemukan pelabuhan hati?"
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus