Pertama Kali Mengenal-Nya
Hari ini, hati saya tergerak untuk menulis sesuatu yang sangat berbeda. Hal yang paling saya takuti ketika mulai memberanikan diri untuk menulis. Namun ada satu hal yang saya sadari, bahwa rasa takut bukan untuk dihindari tapi seharusnya dihadapi.
Sampailah di paragraf kedua tulisan saya. Saya Andrian Kharisma, mengucapkan terima kasih banyak kepada kawan-kawan yang telah meluangkan waktu untuk mengunjungi blog ini. Tapi maaf yang sedalam-dalamnya untuk kawan-kawan, khususnya yang berbeda keyakinan dengan saya. Karena saya akan berbagi tentang kasih Tuhan dalam hidup saya. Kawan-kawan dapat beralih ke tulisan saya yang lain. Tapi jika kawan-kawan memutuskan untuk tetap membaca, tak apa, toh saya sudah mengingatkan. Justru saya harus mengucapkan terima kasih banyak kepada kawan-kawan.
Mari kita mulai dari awal saya mengenal Tuhan. Pertama kali, saya benar-benar merasakan kuasa-Nya ialah saat saya mengidap penyakit paru-paru. Penyakit ini menuntut saya untuk meminum obat pahit setiap harinya. Sembilan bulan saya harus menghabiskan pagi hari saya dengan meminum obat yang pahit. Syukurlah setelah sembilan bulan, saya sembuh dari penyakit yang sungguh menyiksa. Nahasnya beberapa bulan kemudian, saya terkena penyakit yang sama namun dengan kondisi yang lebih parah
.
Karena kondisi fisik saya ketika kecil sangatlah lemah, saya harus beberapa kali dirawat di rumah sakit terdekat. Dan di satu titik dimana beberapa anggota keluarga pasrah terhadap kondisi saya, disitulah saya merasakan kuasa-Nya. Terlebih lagi di titik tersebut, saya benar-benar merasakan lelah harus meminum obat pahit tiap pagi. Saya hanya bisa menangis dan berkata bahwa saya lelah dan tak sanggup lagi meminum obat ke ibu saya.
Saat itu, ibu saya hanya mengajak saya berdoa dan berkata "Satu-satunya yang bisa menyembuhkan kamu hanyalah Tuhan. Dia Bapa Yang Baik, mintalah maka akan diberikan kepada mu."
Setelah mendengar perkataannya, saya mengambil posisi berdoa, melipat tangan dan lalu menutup mata. Saya yang tak tahu harus bagaimana berdoa saat itu, hanya bisa berkata-kata sambil menangis "Tuhan aku cape Tuhan. Aku gamau minum obat pait lagi Tuhan. Sembuhin Rian ya Tuhan. Kau Bapa Rian Tuhan, bantu Rian Tuhan".
Setelah mendengar perkataannya, saya mengambil posisi berdoa, melipat tangan dan lalu menutup mata. Saya yang tak tahu harus bagaimana berdoa saat itu, hanya bisa berkata-kata sambil menangis "Tuhan aku cape Tuhan. Aku gamau minum obat pait lagi Tuhan. Sembuhin Rian ya Tuhan. Kau Bapa Rian Tuhan, bantu Rian Tuhan".
Itulah yang saya ucapkan dan yang saya terus ulang-ulang hingga ibu saya menenangkan saya.
Keesokan harinya, tak terjadi apa-apa. Saya tetap meminum obat pahit seperti biasa. Tapi ada yang saya rasakan sangat berbeda dari sebelumnya. Saya merasa saya akan sembuh, lebih tepatnya disembuhkan oleh-Nya. Mulai dari hari itu hingga sekarang, saya percaya rencana-Nya selalu baik dalam hidup saya.
Hingga akhirnya saya sampai di hidup saya yang sekarang. Yang tak pernah kekurangan apalagi berlebihan. Yang terbebas dari segala penyakit yang pernah saya alami. Yang selalu mendapat hal baik setiap hari sesuai rencana-Nya.
Karena saat kau percaya, kau takkan mempersalahkan apa rencana-Nya, karena kau tahu siapa yang berencana dan kau sungguh tahu bahwa rencana-Nya selalu baik bagi kita, anak-Nya.
1 Korintus 2:9
Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."
Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."
Saya Andrian Kharisma, God bless!

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSmangat trus yan 💪 Godbless!
BalasHapus