Pagi itu Kembali



Ternyata aku yang terlalu jauh melangkah. Sebelum pagi itu, hanya ada gedung-gedung tinggi yang menjulang. Asap kendaraan yang lalu lalang. Semua orang berlari, mereka takut dilahap waktu. Saling berhimpitan, kadang ada yang terjatuh, kadang juga ada yang berhenti tiba-tiba. Pagi yang tidak mengenal kasih sayang.

Pagi tidak lagi sejuk, pagi hanya menjadi pengingat akan repetisi yang harus kamu lakukan. Pagi yang berbenturan dengan waktu. Pagi yang kosong. Pagi yang tak lagi, ada kamu.

Namun setelah sekian purnama, pagi itu kembali. Di restoran cepat saji yang menyuguhkan es krim yang disukai anak-anak, kamu datang.

Kamu masih sama seperti pertama kali aku mengenalmu. Kesederhanaan sepertinya selalu mengiringi kemana pun kamu pergi. Tentunya, senyummu masih sama.

Tuhan memang perancang yang handal. Tak habis pikir aku denganNya, bagaimana senyum semanis itu bisa dikaruniakannya kepadamu. Aku percaya, senyum itu merupakan salah satu karya seni terbaikNya.

Aku bawakan kamu segelas es krim. Aku ingin kamu merasakan apa yang anak-anak itu rasakan. Aku ingin kamu, bahagia seperti raut muka anak-anak itu ketika eskrim mendarat mulus di tangannya.

Anehnya, kamu masih saja bertanya untuk siapa es krim itu. Sudah jelas itu untukmu. Tanpa kau pinta, aku berikan apa yang baik untukmu. Namun hatiku bukan yang terbaik bagimu.

Ternyata aku salah. Bukan sunyi laut yang aku rindukan. Bukan sejuk angin pantai yang selama ini aku mau.

Ternyata, aku rindu kamu. Senyummu. Dan semua kenangan indah yang kita lalui bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbeda Sejak Kecil

Tentang Penulis Dan Menulis

Berlayar Kembali