Untuk Kamu yang Menyebalkan
Semesta dengan segala pekerjaan-Nya memang ajaib. Dia kirimkan kamu ke hidupku, lengkap dengan tatapan mata yang sinis, air muka yang menyebalkan, dan ocehan yang langsung menusuk kuping.
Sebelumnya tak pernah kusangka akan bisa sedekat ini denganmu. Namun pada suatu senja di satu kota yang gemerlapan karena cahaya gedung tinggi menjulang, kamu datang. Kamu berdiri disana, di tempat pemberangkatan dan perhentian untuk setiap orang yang pergi dan datang.
Aku bawa kamu melewati jalan kecil yang hanya diisi oleh pedagang di samping kiri dan kanan jalan. Kamu terkejut, di kota yang padat dan tak pernah kesepian ini,ternyata masih ada jalan kecil yang tidak mengenal kemacetan. Kamu memuji hidup ini aneh seraya membuka obrolan. "Padahal baru siang tadi aku mencari tahu kasus kematian di jalan yang tadi kita lewati", katamu. Kamu jelaskan panjang lebar kasus kematian itu, mulai dari kronologi kejadian, berapa banyak korban, dan bagaimana sang pelaku mengambil nyawa korbannya dengan ganas. Malam yang dingin dengan cerita kematian, sungguh malam yang mengerikan.
"Kamu takut?", tanyamu. Aku bukannya takut dengan jalan yang tadi kita lewati atau cerita seram tentang kasus kematian. Aku jadi takut dengan Semesta, segala pekerjaan-Nya bukan hanya ajaib tapi juga menakutkan. Sekarang, kamu bercerita tentang makanan, minuman dan apapun yang bisa kamu ceritakan setelah keluar dari jalan kecil tadi. Kamu kenalkan ibukota yang tak pernah membuatmu betah dan alasan kenapa kamu selalu menyempatkan diri untuk pulang ke rumah. Ibukota akan selalu hidup dan dihidupi oleh banyak orang, walaupun banyak orang tidak betah dengannya.
Aku lantas memuji hidup ini aneh juga. Karena hidup ini menuntun aku mendekat padamu, perempuan yang menyebalkan dan selalu mengoceh tentang banyak hal. Perempuan yang dengan mudahnya berpura-pura marah dan menatap orang sinis sampai mereka merasa bersalah. Hidup ini aneh, begitu juga dengan ibukota dan kamu tentunya.
Lalu pada suatu malam di teras rumah setelah mengantarmu pulang, aku termenung. Aku mengingat-ngingat kembali apa yang Pram pernah katakan. "Lagipula tak ada cinta muncul mendadak, karena dia adalah anak kebudayaan, bukan batu dari langit", tutur Pram lewat tulisannya. Aku setuju pada Pram, cinta adalah hasil dari proses yang selama ini kau jalani dengannya. Aku yakin cinta tak pernah muncul mendadak.
Suara butut skuter terdengar dari kejauhan. Temanku datang, dia mengenakan jaket kulit belel dengan bau yang khas, bau asap rokok yang tersengat sinar matahari. "Semesta mungkin menyesal memberimu otak dengan kepala yang besar. Sudah berapa kali kau terjebak di perasaan yang tolol itu? Gunakan otakmu meski hanya sedikit!", dia menghinaku. Temanku yang satu ini memang kurang ajar, namun aku sedang tidak ingin berdebat dengannya. Barangkali dia benar, aku hanya terjebak di lamunan perasaanku. Aku masih saja termenung, sementara teman disampingku sibuk membakar paru-parunya. Aku berusaha kembali mengingat perkataan Pram, banyak sekali hal yang sudah dia ajarkan padaku bertahun-tahun. "Kamu harus menguji dirimu, hatimu sendiri", Pram menegurku.
Hidup akan selalu memberimu ujian, sampai selesai hidupmu, sampai kamu tak mampu lagi diuji. Kamu juga harus menguji dirimu, pastikan segala hal sebelum kau yakini kebenarannya. Temanku memang pintar adanya walau kepintarannya seringkali diragukan semua orang. Aku berusaha menggunakan otakku sekarang, meski hanya sedikit. Aku kembali menjemputmu pada saat senja yang sama. Anehnya, aku tak tahan untuk diam. Aku yang terus menerus mengoceh sekarang, kamu dengan senang menimpalinya. Kita membahas banyak hal, mulai dari jam berapa portal jalan akan ditutup sampai bagaimana hidup ini terasa adil bagi gadis kecil di bahu jalan.
Lagi-lagi aku katakan, semesta dengan segala pekerjaan-Nya memang ajaib. Kamu yang begitu menyebalkan ternyata bisa terkejut mengetahui ada jalan kecil di kota yang tak pernah kesepian. Kamu yang menyebalkan ternyata hobi mengoceh panjang lebar entah kemana. Kamu yang masih menyebalkan, membuat hati ini bimbang dengan segala pertimbangan.
Akhirnya, pada suatu malam yang senjanya terlambat kukejar, kamu tidak datang. Kamu tidak menaiki kendaraan yang terangkai atas gerbong-gerbong. Kamu lebih memilih kendaraan roda empat yang terkena kemacetan dan turun di tempat terakhir yang sepi dan tidak ada orang. Jalan kecil yang sering kita lewati mendadak menyebalkan, ada banyak genangan dan batu kerikil yang menghalangi perjalanan. Suara lalu lalang kendaraan begitu kompak menusuk kuping sampai kepala. Malam yang senjanya terlewat, malam mengenaskan.
Temanku yang jaket belelnya bau itu memang benar. Aku hanya terjebak dalam perasaan tolol seperti katanya. Aku terus saja berputar-putar pada lamunan perasaan hingga muntah tak tertahan. Aku gagal dalam ujian dan tidak lagi pantas diuji oleh kehidupan. Aku terkalahkan.
Seperti setiap malam akan berakhir. Begitu juga dengan malam yang gelap karena bintangnya tertutup awan, lengkap dengan senja yang terlewat, pasti juga memiliki akhir. Di pagi yang terang dengan suara merdu burung yang berkicauan, aku sadar.
Bersama dengan tulisan ini, yang ditulis hati-hati dan penuh pertimbangan. Aku serahkan perasaan ini, bibit yang langsung ditebang sebelum bertumbuh batang. Perasaan yang sampai kapan pun juga takkan tersampaikan, karena aku tidak percaya semua akan baik-baik saja setelahnya.
Teruntuk kamu yang masih saja menyebalkan, terima kasih telah datang dan memberi banyak sekali pelajaran. Semoga pada setiap senja maupun malam dan juga pagi, kamu terus percaya bahwa Semesta akan selalu ajaib dengan cara-Nya.
Jika kamu yang membaca tulisan ini merasa bahwa kamu orang yang ada di tulisan ini, aku tidak segan menerima balasan dan dimintai penjelasan.
Huaaaaaa so deep :'') semangatt berkarya yan❣️
BalasHapusMAKASIIII YAAA NADA :"
Hapuswuahh menyentuh sekali....
BalasHapus