Rumah yang Tak Lagi Terasa Rumah
Tak pernah lagi ada rumah, yang tersisa hanyalah bangunan beratap, lengkap dengan pintu dan jendela. Rumah memang bukan tentang bangunannya, tak peduli bangunan itu tersusun dari batako, batu bata, maupun anyaman dari bilah bambu.
Persetan soal warna cat apa yang bagus dan cocok. Warna apapun takkan pernah lagi memberi kesan. Persetan juga soal pintu dan jendela terbuat dari bahan yang kuat atau lemah. Semua jadi percuma. Bangunan tak ada yang abadi. Begitu juga dengan apa yang selama ini sering disebut rumah.
Rumah tak lagi terasa rumah karena kamu. Benar, hanya karena kamu. Kamu yang penuh dengan keegoisan dan rasa ingin menang sendiri.
Kamu pikir kami tak berusaha menjaga bangunan ini? Kamu pikir kami tidak pernah merasa di rumah? Kamu pikir kami yang membunuh rumah ini?
Kami merasa di rumah ketika kamu tak ada disana. Jawaban yang sederhana dan apa adanya.
Sekarang, kamu hanya bisa duduk diam dengan seenaknya. Diammu tak mungkin dibilang emas. Diammu hanya menambah masalah. Diam menjadi cara kamu lari dari semua yang telah terjadi. Diammu memang pengecut.
Saya katakan dengan baik-baik. Kamu yang membunuh bangunan ini secara perlahan. Apapun yang kamu lakukan nyatanya membuat bangunan ini mati pelan-pelan. Kamu begitu egois hingga tidak sadar.
Namun, ada satu hal yang perlu kamu ingat. Saya tidak akan pernah tumbuh dewasa sepertimu. Takkan menjadi pengecut yang senjatanya hanya diam. Takkan menjadi apa yang kamu harapkan.
Rumah yang tak lagi terasa rumah. Rumah yang didalamnya ada kamu.

<3
BalasHapus