Aku Benci Melihat Kamu Berbeda
Malam ini, kota hujan sedang lenggang. Sepertinya pandemi memang membuat semua kota menjadi sepi sekarang. Hampir semua pekerja kantoran dirumahkan. Orang-orang pun berpikir ulang untuk ke luar rumah dan berkeliaran.
Lenggangnya kota hujan menjadi sebuah momen yang jarang sekali aku dapatkan. Aku pecahkan kesunyiannya dengan kuda besiku yang berkekuatan hanya 70 cc. Seketika kami berdua menjadi pusat perhatian di jalanan.
Jika bukan karena sebuah pesan yang masuk ke gawaiku minggu lalu, aku pasti tidak akan pernah mau untuk ke luar rumah. Namun, pesan masuk ini bukan pesan biasa. Bukan pula ajakan nongkrong-nongkrong tidak jelas. Pesan ini datang dari seseorang yang pernah mengisi hari-hari dan hatiku selama hampir satu tahun.
"Aku ingin bertemu. Ada yang ingin aku bicarakan", katamu dalam pesan itu.
Aku tidak langsung menjawabnya. Karena aku masih menebak-nebak apa yang akan kamu bicarakan dan bagiku semuanya sudah jelas ketika kamu memutuskan seluruh perjalanan kita selesai di malam itu.
"Apa ini hal yang egois?", tanyamu sebelum aku sempat menjawab pesan sebelumnya.
"Aku tidak tahu ini hal yang egois atau bukan. Tapi apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Semua yang membuatku sesak. Aku ingin membicarakannya agar aku bisa lega. Setelahnya aku tidak akan menganggumu lagi."
Aku mengiakan ajakannya dan sebentar lagi aku akan sampai di tempat yang telah kita tentukan.
Ternyata benar dugaanku, kamu lebih dulu datang. "Sudah lama menunggu?", tanyaku sembari menarik kursi untuk duduk.
"Aku baru saja duduk kok, bagaimana perjalanan tadi?"
"Cukup lancar"
Kamu masih saja menunduk dan terlihat gelisah sambil membolak-balikkan buku menu. Aku memesan satu gelas wedang jahe untuk menghangatkan badan.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?", aku berusaha membuka obrolan setelah wedang jaheku tiba.
"Aku tidak yakin apa ini harus dibicarakan atau tidak. Namun, ini satu-satunya cara agar aku bisa merasa lega."
Dari pertama kali pesan itu masuk sampai detik ini, aku masih tidak paham apa yang sebenarnya membuatmu sesak. "Baiklah, aku akan mendengarkan."
"Malam itu adalah puncak dari segala kegelisahanku. Aku sadar kalau semua yang ada pada dirimu adalah hal yang aku suka. Kamu layaknya diriku dalam versi yang lebih baik. Namun, tujuan kita berbeda dan aku enggak mungkin memaksakannya.
Walau dipaksa, akhirnya pasti kita memilih jalan yang berbeda. Kegelisahan membawaku untuk memutuskan kalau semua yang kita mulai harus berakhir.
Tapi aku selalu bangga kepadamu. Aku selalu kagum melihatmu tekun di berbagai hal yang kau jalani. Walau aku enggak pernah menunjukannya langsung kepadamu. Namun, aku selalu mengatakannya ke teman-temanku.
Aku enggak tahu ini hal yang egois atau bukan untuk membawamu ke tempat ini padahal kita sudah selesai."
Aku masih diam dan mencoba mencerna maksud ucapanmu. Bagiku ini hal yang egois untuk membahas semua yang telah terjadi. Seperti membuka kembali luka yang sudah kering.
Ucapanmu membawa aku kembali pada rasa sakit di malam itu. Ketika semua hal yang aku perjuangkan untukmu berakhir begitu saja. Aku masih ingat bagaimana aku kembali ke rumahmu padahal baru saja aku mengantarmu pulang.
Saat itu aku tidak bisa diam begitu saja ketika mendapat pesan darimu, "Terima kasih untuk semuanya."
Malam yang menyakitkan, malam pertama dan terakhir dimana aku menangis di depanmu.
"Aku rasa enggak perlu ada yang aku jawab lagi. Karena semuanya sudah jelas dan tujuan kita malam ini sudah tercapai. Kamu sudah mengatakannya dan aku sudah mendengarkannya.", Kataku.
"Aku benci melihat kamu berbeda.", jawabmu.
Ian :")
BalasHapuskamu yang jadi alasan dibalik tulisan ian ini sebegitu beruntungnya kamu:)
BalasHapus