Melihat Isi Cangkirmu
Di hari, renjana kita terlalu kuat untuk membuat rencana yang berulang kali gagal menjadi kenyataan. Kita akhirnya bertemu.
Kala itu, kita saling duduk berhadapan. Kamu adalah warna ceria, sedang aku adalah biru yang sudah pudar menuju abu-abu. Wajahmu adalah lukisan yang sama seperti yang ku tatap di tahun-tahun sebelumnya. Begitu juga dengan garis senyum dan tatapan matamu.
Aku sejujurnya sungguh bangga padamu. Kamu telah membuktikan padaku kalau kamu bukan lagi anak kecil. Kamu telah tumbuh dan tidak lagi takut jatuh.
Lalu kita sama-sama mengeluarkan cangkir masing-masing. Cangkirmu memiliki banyak retakan. Ada juga lukisan kaktus dan mercusuar di pantai.
Aku memandangi cangkirmu dengan seksama. Ternyata retakan-retakannya justru membuat cangkirmu terlihat lebih apa adanya.
Barangkali memang tidak semua keindahan dalam hidup membawa keuntungan. Burung merak dengan bulunya yang menawan pun harus merasa tertawan karena menahan berat beban yang membuatnya berlari dengan lamban.
Begitu juga denganmu, luka yang merekah. Perasaan yang penuh dengan resah. Pikiran yang terisi oleh gundah. Hal-hal tak indah yang membuat dirimu semakin cerah.
Setelah puas melihat retakan di bagian luar, aku menelaah isi dari cangkirmu. Aku sedang melihat kebun yang tanamannya dihiasi langit senja yang berada di pinggir pantai, lengkap dengan mercusuar di ujung cakrawala dan pasir yang berwarna keemasan.
Seketika itu juga, aku tersenyum kepadamu. Rasa kagum dan bangga terus tumbuh di diriku. Kamu sudah mengisi cangkirmu dengan segala yang baik dan indah.
Jangan berhenti mengisinya. Jadilah penakluk atas cangkirmu. Jadikan cangkirmu sebagai tempat yang penuh perubahan.
Komentar
Posting Komentar