Prends le risque ou perd ta chance

Punggungmu adalah hamparan es, dingin yang membuatku membeku hingga berdiri kaku. Tulang selangkamu adalah dinding batu yang terukir kaligrafi—Prends le risque ou perd ta chance—Take the risk or lose your chance. 


Aku adalah kemungkinan yang lancang. Percaya diri pada kesempatan, berhadapan dengan risiko pun tak goncang. Namun, kau bukan keduanya dan aku tak sempat mengambil ancang-ancang. 

Kecup itu. Kecup itu. Hangat yang tidak bisa ditemukan di jenis bir apapun. Candu yang mengalahkan pil apapun. Aku berada di batas antara nyata dan samar. Tapi kau selalu mampu menata diriku kembali sadar. 

Aku menginginkanmu sekeras pualam, sementara kau melarangku jatuh cinta ketika hari sudah malam—terpukau pada puan asing di lain pulau. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbeda Sejak Kecil

Tentang Penulis Dan Menulis

Berlayar Kembali