Postingan

Untuk Kita

Untuk kita yang sedang rapuh, yang sedang berusaha keras untuk kembali utuh. Untuk kita yang harus remuk, karena mesti memendam pahitnya amuk. Untuk kita yang lelah, yang terus mencoba berdiri dengan kaki sendiri walaupun rasanya susah. Untuk hal-hal yang diperjuangkan, namun terasa semakin sulit didapatkan Untuk luka yang belum kunjung pulih, sakit yang belum sehat. Untuk apapun itu yang sedang dianggap beban, yang membuat kepala seperti ditekan dan langkah berat untuk berjalan. Semua ini pasti akan berlalu. Kita hanya perlu terus berjalan meski pelan. Tidak menjadi masalah berhenti sejenak, mengambil rehat. Bersedih secukupnya, terus berjuang dengan sebaik-sebaiknya. Datang ke Dia atau mereka yang mau mendengar. Terakhir, jangan sampai kamu kehilangan dirimu. Kita tidak pernah sendiri. Masih banyak hal-hal baik yang kamu punya.

Petualang yang Tak Pernah Pulang.

Apa yang paling dinantikan dari sebuah perjalanan? Tiba dengan selamat di kota tujuan? Berhasil menginjakkan kaki di tempat wisata idaman? Atau berkenalan dengan orang baru dan menambah pengalaman? Jawabannya sederhana, sebuah kepulangan. Kita manusia sepakat tujuan terakhir dari perjalanan adalah rumah. Begitu juga untuk setiap petualang. Karena tidak ada hal yang lebih indah selain petualang yang akhirnya bisa kembali pulang. Namun, ternyata enggak semua orang mau menantikan sebuah kepulangan. Enggak semua orang sabar dalam penantian. Karena setiap hal yang pergi pasti meninggalkan ruang yang kosong. dan enggak semua orang mampu bertahan menunggu ruang itu kembali diisi oleh orang yang pergi. Nyatanya beberapa dari kita manusia memilih untuk menggantikan apa yang pergi dengan apa yang ada. Enggak peduli hal yang pergi akan kembali atau tidak. Karena itu, hal yang lebih menyedihkan dari belum bisa pulang adalah melihat dirimu tidak lagi dinantikan kepulangannya. Sebab hati sek...

Rumah yang Tak Lagi Terasa Rumah

Gambar
Tak pernah lagi ada rumah, yang tersisa hanyalah bangunan beratap, lengkap dengan pintu dan jendela. Rumah memang bukan tentang bangunannya, tak peduli bangunan itu tersusun dari batako, batu bata, maupun anyaman dari bilah bambu. Persetan soal warna cat apa yang bagus dan cocok. Warna apapun takkan pernah lagi memberi kesan. Persetan juga soal pintu dan jendela terbuat dari bahan yang kuat atau lemah. Semua jadi percuma. Bangunan tak ada yang abadi. Begitu juga dengan apa yang selama ini sering disebut rumah. Rumah tak lagi terasa rumah karena kamu. Benar, hanya karena kamu. Kamu yang penuh dengan keegoisan dan rasa ingin menang sendiri. Kamu pikir kami tak berusaha menjaga bangunan ini? Kamu pikir kami tidak pernah merasa di rumah? Kamu pikir kami yang membunuh rumah ini? Kami merasa di rumah ketika kamu tak ada disana. Jawaban yang sederhana dan apa adanya. Sekarang, kamu hanya bisa duduk diam dengan seenaknya. Diammu tak mungkin dibilang emas. Diammu hanya me...

Manusia Berinisial "A"

Mungkin, Kau rasakan begitu banyak kerapuhan, Ada begitu banyak ketidakadilan Luka lama Luka baru Terus dan menerus Rupamu yang rupawan Jelas memabukkan sepasang mata juwita Tapi kau tetap bertahan dengan satu wanita Aku tak banyak tahu tentangmu Yang kutahu , Tanganmu mahir mengoreskan kata kata Mulutmu tidak berhenti menghangatkan suasana Ucapanmu  tak henti menghapus luka Semoga, Semoga, Kau tetap kuat diatas kemandirianmu terhadap dunia Semoga, Kau selalu ada dalam do'a manusia Dan semoga kau akan selalu bahagia dalam lindunganNya. Ditulis dari tangan perempuan yang kepada telinganya, aku ceritakan apapun, termasuk tentang kamu .

Untuk Kamu yang Menyebalkan

Semesta dengan segala pekerjaan-Nya memang ajaib. Dia kirimkan kamu ke hidupku, lengkap dengan tatapan mata yang sinis, air muka yang menyebalkan, dan ocehan yang langsung menusuk kuping. Sebelumnya tak pernah kusangka akan bisa sedekat ini denganmu. Namun pada suatu senja di satu kota yang gemerlapan karena cahaya gedung tinggi menjulang, kamu datang. Kamu berdiri disana, di tempat pemberangkatan dan perhentian untuk setiap orang yang pergi dan datang. Aku bawa kamu melewati jalan kecil yang hanya diisi oleh pedagang di samping kiri dan kanan jalan. Kamu terkejut, di kota yang padat dan tak pernah kesepian ini,ternyata masih ada jalan kecil yang tidak mengenal kemacetan. Kamu memuji hidup ini aneh seraya membuka obrolan. "Padahal baru siang tadi aku mencari tahu kasus kematian di jalan yang tadi kita lewati", katamu. Kamu jelaskan panjang lebar kasus kematian itu, mulai dari kronologi kejadian, berapa banyak korban, dan bagaimana sang pelaku mengambil nyawa korbannya denga...

Pagi itu Kembali

Gambar
Ternyata aku yang terlalu jauh melangkah. Sebelum pagi itu, hanya ada gedung-gedung tinggi yang menjulang. Asap kendaraan yang lalu lalang. Semua orang berlari, mereka takut dilahap waktu. Saling berhimpitan, kadang ada yang terjatuh, kadang juga ada yang berhenti tiba-tiba. Pagi yang tidak mengenal kasih sayang. Pagi tidak lagi sejuk, pagi hanya menjadi pengingat akan repetisi yang harus kamu lakukan. Pagi yang berbenturan dengan waktu. Pagi yang kosong. Pagi yang tak lagi, ada kamu. Namun setelah sekian purnama, pagi itu kembali. Di restoran cepat saji yang menyuguhkan es krim yang disukai anak-anak, kamu datang. Kamu masih sama seperti pertama kali aku mengenalmu. Kesederhanaan sepertinya selalu mengiringi kemana pun kamu pergi. Tentunya, senyummu masih sama. Tuhan memang perancang yang handal. Tak habis pikir aku denganNya, bagaimana senyum semanis itu bisa dikaruniakannya kepadamu. Aku percaya, senyum itu merupakan salah satu karya seni terbaikNya. Aku bawakan kamu s...

Pencarian

Setelah terombang-ambing cukup lama di tengah samudra. Aku, seorang kapten kapal memutuskan untuk kukuh pada tujuan awal. Berlayar kembali, meninggalkan hati seorang perempuan penyuka hujan karena bukan hanya aku yang berlabuh di hatinya. Dengan api semangat yang hampir padam, aku putuskan untuk singgah di pulau terdekat. Membiarkan semua awak kapalku beristirahat dan pastinya mereparasi kapal. Sementara Kapten kapal hanya menyesap kopi di pinggir pantai, sambil memandang laut. Kapten kapal masih berharap arah angin serta ombak laut akan membawanya pada hati yang tepat  untuk berlabuh. Hari semakin gelap, segelas kopi sudah sedari tadi habis. Kapten kembali ke kedai untuk membayar kopi. Ia mencari bapak penjual kopi yang tadi sore ia lihat, tidak ketemu jika hanya mata yang mencari. Kapten memutuskan berteriak untuk memanggil bapak penjual kopi. Seseorang terlihat keluar dari arah dapur. Bukan, itu bukan bapak penjual kopi, itu perempuan yang memakai topi koki. Secara spontan, ...